Copyright 2017 - Custom text here

Pada tanggal 14 sampai 18 Agustus 2013 saya berkesempatan mengunjungi salah satu Pulau di Indonesia yang ingin sekali saya kunjungi karena pulau ini sering saya baca di beberapa buku terutama mengenai tahanan politik G30S PKI, yaitu Pulau Buru. Tentu saja tawaran ini tidak saya sia-siakan ketika Rumah Perubahan meminta saya berkunjung kesana.

Perjalanan ke Pulau Buru cukup menyita tenaga, pertama saya harus ke Ambon terlebih dahulu lalu menggunakan Ferry yang berangkat malam jam 20:00 menuju Namlea, pelabuhan Pulau Buru. Perjalanan ditempuh selama sekitar 8 jam, mendarat di Namlea hari masih gelap sekitar jam 5 pagi, kami (saya berangkat berdua) menunggu hari terang lalu dengan motor perjalanan dilanjutkan ke Metar sekitar 70 Km dari Namlea.

Kapal Ferry dari Ambon menuju Namlea

Suasana di dalam Ferry

Tenda penggali emas liar di Gunung Batok, saat ini tempat penggalian ini sudah dilarang digali lagi. Emas memang merusak tatanan kehidupan sebagian orang di Pulau Buru dan juga merusak lingkungan.

Tetua Kampung sekaligus Tetua Adat

Lahan yang akan ditanami Pohon untuk penghijuan dan menghasilkan sesuatu untuk penduduk setempat

Sebagian besar jalanan masih berupa jalanan tanah, diperlukan kendaraan yang bisa menempuh medan berat untuk melintasinya.

Menggunakan motor apabila tidak hujan dan becek merupakan alternatif terbaik

Perkampungan rakyat di Metar

Bersama para tetua Adat dan Kampung sedang merundingkan pelaksanaan program penghijauan

Suasana Pasar di satu desa di P Buru

Pohon Kayu Putih yang hampir tersebar diseluruh pulau, Minyak kayu putih terbaik memang berasal dari Pulau Buru

Destilasi minyak kayu putih tradisional, sekarang banyak yang sudah rusak

Masjid besar di Pulau Buru

Peninggalan Abri Masuk Desa tahun 1993

Gedung SD di Metar, Kec Waeapo